Nyeri pinggang, oleh sebagain orang sering dikaitkan dengan faktor penuaan. Tak heran jika banyak orang mengabaikannya dan menganggap sebagai suatu hal yang lumrah. Seperti yang dialami Ibu Neneng (60 tahun), nenek 10 cucu ini menganggap sakit pinggang yang diderita – di tulang belakang bagian bawah sebelah kiri – sebagai hal yang biasa. Terlebih nyerinya hilang timbul. Mesk mengganggu, ia tetap melakukan  aktivitas harian seperti memasak, menjaga dan mengantar jemput cucunya ke sekolah.

Beberapa bulan yang lalu kepada anaknya, Neneng mengeluh sakit pinggang yang ia alami bertambah nyeri. “Rasanya sakit banget, duduk lama atau berdiri lama nggak bisa. Ke kamar mandi dipapah, dimandiin,” paparnya. Tidur malam tidak nyenyak.  Miring kanan sakit, miring kiri apalagi. Sakit sekali.

Nyeri pinggang atau dalam dunia kedokteran dikenal low back pain (LBP) merupakan nyeri yang terasa di antara iga terbawah sampai lipat bokong bawah. Sakit yang dirasakan, kadang disertai nyeri yang menjalar ke tungkai dan kaki.  Penelitian menunjukkan 60-80% orang pernah mengalami nyeri pinggang selama hidupnya. Risiko terjadinya nyeri pinggang meningkat seiring bertambahnya usia dan bertambahnya berat badan.

Pada kasus yang dialami Ibu Neneng, menurut Pakar Nyeri dan Tulang Belakang, dr. Mahdian Nur Nasution SpBS, nyeri yang hilang timbul menunjukkan adanya perubahan struktur pembentuk pinggang (tulang, otot dan jaringan penyangga).  Nyeri pada pinggang yang hebat, membuat Ibu Neneng terdiam duduk di kursi roda, selama beberapa bulan terakhir. Merasa “cacat”, semangat hidupnya menurun. “Ibu sedih sekali  dan merasa sudah mau mati. Anak-anak menangis melihat kondisi ibu. Sehari-hari, ibu hanya rebahan,” jelas Neneng.

Ibu Neneng dan keluarga tidak tahu penyebab penyakitnya. Suatu hari, ibu 4 orang anak yang berdomisisli di daerah Depok, Jawa Barat, menginap di rumah salah satu anaknya di Bekasi. Malangnya, kondisi fisik dan psikisnya drop hingga sempat berkata kepada anaknya, “Kayaknya Mama sudah nggak kuat.”

Melihat kondisi ini, anaknya segera membawa Ibu Neneng ke Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Jakarta. Dari pemeriksaan yang dilakukan dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, diketahui sumber rasa nyari terletak pada sendi facet di ruas tulang belakang. Sendi facet merupakan persendian kecil di belakang cakram tulang belakang, yang menghubungkan antar ruas tulang belakang, membantu / mendukung tulang belakang dan memungkinkannya untuk bergerak stabil.

Sendi facet rentan cidera, aus atau robek. Trauma seperti cidera whiplash (sentakan tiba-tiba di leher), memutar sambil mengangkat kepala, atau rotasi tidak sengaja di tulang belakang dapat mengiritasi sendi facet. Hal itu menyebabkan kerusakan, peradangan dan / atau distorsi sendi. Aus atau robeknya sendi dapat menyebabkan hilangnya tulang rawan dan degenerasi cakram tulang belakang. Cakram yang juga adalah bantalan tulang akan runtuh, menyebabkan rasa sakit di daerah tersebut. Untungnya pada kasus Ibu Neneng cakram tidak sampai runtuh, hanya terjadi peradangan.

“Malam itu juga saya dianjurkan untuk melakukan tindakan radiofrekuensi. Saya telepon anak-anak, minta pertimbangan. Mereka bilang, pokoknya mama harus sembuh bagaimana pun caranya,” ucap Neneng. Tindakan radiofrekuensi berlangsung sekitar 40 menit, dan Ny. Neneng dalam keadaan sadar karena hanya dibius lokal.

Usai tindakan radiofrekuensi ablasi (RFA), Ibu Neneng langsung bisa berjalan. “Anak-anak kaget dan senang. Seperti nggak percaya. Kayak mimpi. Senangnya nggak bisa dilukiskan. Saya terima kasih kepada dokter, karena sekarang saya bisa jalan lagi,” papar Neneng dengan mata berkaca-kaca. Bahkan saat ini Neneng dapat kembali memasak dan antar jemput cucunya ke sekolah.

Mengenal Radio frequency ablation (RFA)

Dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, selaku Pakar Nyeri dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Jakarta yang menangani langsung Ibu Neneng menjelaskan, sendi facet Ibu Neneng mengalami inflamasi dan menimbulkan rasa nyeri. Pada kondisi seperti itu, “Tindakan fisioterapi justru akan menambah rasa sakit.” Nyeri sendi facet bila sudah kronis, bahkan dapat menyebabkan perlengketan.

Ibu Neneng mendapat terapi radiofrekuensi atau radio frequency ablation (RFA).  Tindakan ini dilakukan dengan cara memasukkan jarum RFA ke dalam sendi facet, dengan bimbingan x-ray. Setelah jarum berada di tempat yang disasar, arus kecil dari gelombang radio dihantarkan melalui jarum menuju saraf sekitar sendi facet selama 90 detik, dengan tujuan membaalkan saraf yang selama ini mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak.

Menurut dr. Mahdian, jika nyeri sendi belum terlalu lama, terapi RFA bisa memberikan kesembuhan permanen; seperti terjadi pada ibu Neneng. Kalau sakitnya sudah kronis (sakit sudah terjadi >3 bulan), perlu beberapa kali tindakan. Tetapi pada tindakan pertama, rasa nyeri yang dialami pasien bisa berkurang sampai 50 %.

Selain faktor usia (penuaan), postur tubuh yang salah dan kegemukan bisa memicu nyeri pinggang. Namun, ada beberapa penyebab lain yang sering tidak teridentifikasi. Misalnya gangguan sendi, bantalan tulang (discus), sendi panggul, dan saraf terjepit. “Penyebabnya bermacam-macam tapi keluhannya bisa sama, yaitu nyeri pada pinggang. Sebab itu pasien perlu mendapat diagnosas yang tepat, sehingga tindakan yang diambil tepat, dan pasien dapat memperoleh kesembuhannya,” jelas dr. Mahdian.

Selain pemeriksaan fisik, dokter mungkin melakukan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen atau USG.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here